Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun drama itu sendiri.
1
Jalan
2
Topik
3
Background
4
Pemain
5
Karakter
6
Nilai moral
7
Masalah
8
Cara melihat
9
Percakapan
Penjelasan
1) tahapan awal, pada tahapan awal ini merupakan tahapan pengenalan tokohtokoh cerita serta perwatakan, latar, dan lain sebagainya.
2) pemunculan konflik, tahap selanjutnya penonton diajak pada pengenalan konflik. Pada tahap ini, konflik yang merupakan bumbu agar suatu drama lebih menarik akan terjadi. Konflik- konflik ini tentunya melibatkan semua pemain (tokoh). Dalam tahap ini pula penonton akan mengenal alur dari cerita yang dibuat.
3) komplikasi, tahap komplikasi atau tahap peningkatan konflik, semakin banyak
insiden-insiden terjadi. Beberapa konflik pendukung akan terjadi untuk menguatkan konflik utama pada alur cerita.
4) Klimaks, merupakan tahapan puncak dari konflik yang ada. Di tahapan ini
merupakan tahap puncak dari ketegangan yang terjadi mulai dari awal cerita.
5) Resolusi, merupakan tahap yang menujukan jalan keluar dari setiap konflik
yang ada.
Tema yang biasa diangkat dalam drama tersebut, melingkupi: masalah percintaan, kritik sosial, kemiskinan, kesenjangan sosial, penindasan, keluarga yang retak, patriotisme, perikemanusiaan, ketuhanan, dan renungan hidup.
Setting melingkupi tiga dimensi, antara lain sebagai berikut.
1) Setting tempat merupakan tempat terjadinya cerita di dalam sebuah drama, Setting tempat tidak dapat berdiri sendiri. Setting tempat tersebut berhubungan dengan setting ruang serta waktu.
2) Setting waktu merupakan waktu/zaman/periode sejarah terjadinya cerita di dalam sebuah drama.
3) Setting suasana merupakan suasana yang mendukung terjadinya cerita. Setting cerita tersebut dapat didukung dengan tata suara atau juga tata lampu saat pementasan drama.
Berdasarkan perannya, tokoh diklasifikasikan menjadi tiga (3), yakni sebagai
berikut:
b) Tokoh sentral, yakni tokoh-tokoh yang paling menentukan dalam sebuah
drama. Tokoh sentral adalah penyebab dari terjadinya konflik. Tokoh sentral tersebut meliputi tokoh protagonis serta juga tokoh antagonis.
c) Tokoh utama, yakni tokoh pendukung ataupun penentang tokoh sentral bisa juga sebagai perantara dari tokoh sentral. Dalam hal ini ialah tokoh tritagonis.
d) Tokoh pembantu, yakni tokoh-tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap atau tambahan dalam rangkaian cerita
Perwatakan tokoh-tokoh dalam drama itu
digambarkan dengan melalui dialog, ekspresi, atau tingkah laku sang tokoh.
. Amanat drama itu selalu berhubungan dengan
tema drama. Amanat juga menyangkut nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat
yang disampaikan secara implisit.
Nilai-nilai yang diambil antara lain :
1) Nilai moral, yaitu aspek yang berhubungan dengan perilaku, perbuatan baik atau buruk. Nilai moral merupakan pesan moral dari perilaku tokoh
2) Nilai estetika, yaitu aspek keindahan yang melekat pada karya sastra, misalnya pengkalimatan, diksi, penggunaan alur yang variatif.
3) Nilai sosial, yaitu aspek yang berhubungan dengan hubungannya di masyarakat sebagai makhluk sosial
4) Nilai budaya, yaitu aspek yang berhubungan dengan adat istiadat, budaya yang berlaku di suatu daerah.
5) Nilai agama, yaitu aspek yang berhubungan dengan keagamaan (religi) atau keyakinan kepada Tuhan.
1) Konflik eksternal merupakan sebuah konflik yang terjadi antara tokoh dengan sesuatu yang berada di luar dirinya.
2) Konflik internal merupakan konflik yang terjadi antara tokoh dengan dirinya
sendiri.
Sudut pandang adalah posisi dari mana pengarang bercerita apakah dia bertindak langsung dalam bercerita atau sebagai pengobservasi yang
berdiri di luar cerita.
Sudut pandang terdiri atas:
1) Sudut pandang orang pertama atau akuan
a) Aku sebagai tokoh utama
b) Aku sebagai tokoh sampingan
2) Sudut pandang orang ketiga atau diaan
a) Orang ketiga serba tahu
b) Orang ketiga terbatas atau pengamat
Di bawah ini merupakan beberapa hal yang berkaitan dengan dialog dalam naskah drama.
1) Dialog tersebut harus mencerminkan percakapan sehari-hari, karena di dalam drama itu merupakan mimetik (tiruan) dari kehidupan sehari-hari.
2) Ragam bahasa dalam dialog drama tersebut menggunakan bahasa lisan yang komunikatif serta juga bukan ragam bahasa tulis.
3) Diksi (pilihan kata) yang digunakan di dalam sebuah drama juga harus berhubungan dengan konflik serta plot.
4) Dialog dalam naskah drama tersebut juga harus bersifat estetis, artinya adalah memiliki bahasa yang indah.
5) Dialog juga harus dapat mewakili tokoh yang dibawakan, baik itu watak secara psikologis, sosiologis, ataupun juga fisiologis.
|