New game
Download
Get Academic Plan
Share game
Integrate it into your platform

You can integrate the game into an LMS compatible with LTI 1.1 or LTI 1.3 such as Canvas, Moodle, or Blackboard. This way, the scores will be automatically saved into the platform’s gradebook.
Download
You have exceeded the maximum number of games you can integrate into Google Classroom with your current Plan.

To integrate as many games as you want in Google Classroom, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

You have exceeded the maximum number of games you can integrate into Microsoft Teams with your current Plan.

To integrate as many games as you want in Microsoft Teams, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

Downloading games is an exclusive feature for users with an Academic Plan or a Commercial Plan.

Get your Academic Plan or your Commercial Plan now and start integrating your games into your LMS, website or blog.

If you wish, you can download a demo game here and test its integration:

Sejarah Muhammadiyah

Slideshow

Played 1

About this activity

Garis besar sejarah Muhammadiyah.

Created by

Indonesia

Download the paper version to play

Make your own free game from our game creator
Compete against your friends to see who gets the best score in this game

Top Games

%
Anonymous
Anonymous
%
%
%
You have exceeded the maximum number of games you can print with your current Plan.

To print as many games as you want, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

Print your game
Sejarah Muhammadiyah
 

Sejarah MuhammadiyahOnline version

Garis besar sejarah Muhammadiyah.

by Oktarisa Rahmadhani. P
1

Sejarah Muhammadiyah

AIK III Kemuhammadiyahan


Disusun oleh ;

  1. Oktarisa Rahmadhani Puteri (24340011)
  2. Alma Nurfatiha (24340025)
  3. Afifah Maharani (24340030)
2

Pendahuluan & Latar Belakang

Mengapa Muhammadiyah Lahir?


Konteks Sosial-Keagamaan:

  • Praktik keagamaan yang dipandang telah bercampur dengan takhayul, bid'ah, dan churafat (TBC) (Nashir, 2022).
  • Kondisi pendidikan Islam yang tertinggal dan tidak terstruktur.

Konteks Kolonial:

  • Politik Etis Belanda membuka ruang bagi organisasi modern, sekaligus menyisakan tantangan penetrasi misi Kristen (Falaakh, 2020).

Inspirasi Global:

  • K.H. Ahmad Dahlan terpengaruh oleh gagasan pembaruan Islam (tajdid) dari Timur Tengah, seperti Muhammad Abduh, yang menekankan pentingnya ijtihad dan modernisasi (Azra, 2020).
3

Pendiri K.H. Ahmad Dahlan

Sang Pelopor Pembaruan.


Nama lahir: Muhammad Darwis (1868–1923).

Latar Belakang Intelektual:

  • Menimba ilmu di Mekah dan berguru dengan ulama pembaharuan.
  • Melihat langsung kemajuan dan tantangan umat Islam di tingkat global.

Menyaksikan tantangan & kemajuan umat Islam global.

Pemikiran kunci: pemahaman esensi Islam, bukan hafalan.

Praktik Langsung:

  • Metode dakwahnya langsung diterapkan dalam aksi nyata (pendirian sekolah, rumah sakit) sebagai bentuk dakwah bil-hal (Qodir et al., 2023).
4

Kelahiran Muhammadiyah

18 November 1912, Sebuah Titik Awal.


Didirikan secara resmi di Yogyakarta pada 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H.

Strategi Awal:

  • Memanfaatkan regulasi Vereeniging (Undang-Undang Perkumpulan) Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum, menunjukkan kecerdasan politiknya (Falaakh, 2020).

Tujuan Awal:

(1) Memajukan pengajaran dan pelajaran agama Islam,

(2) Memajukan hidup sejalan dengan tuntunan Islam.

Ciri Khas:

Dari awal bersifat terbuka, non-sektarian, dan berorientasi pada amal nyata.

5

Misi & Gerakan Pembaruan (1)

Purifikasi Aqidah dan Ibadah.



Gerakan Tajdid (Pembaruan):

  • Fokus pada pemurnian tauhid dan membersihkan ibadah dari unsur-unsur syirik.
  • Pendekatan kultural-edukatif lebih diutamakan daripada konfrontasi langsung (Burhani, 2020).

Penyebaran Gagasan:

Melalui penerbitan majalah "Suara Muhammadiyah" yang didirikan pada 1915, menjadi media propaganda dan edukasi yang efektif.

6

Misi & Gerakan Pembaruan (2)

Modernisasi Pendidikan & Pemberdayaan Perempuan.


Revolusi Pendidikan:

  • Mendirikan sekolah dengan sistem klasikal dan kurikulum integratif (agama & umum), menjawab dikotomi pendidikan kolonial (Zuhri, 2022).
  • Model ini menjadi prototype bagi sistem pendidikan Islam modern di Indonesia.

Pemberdayaan Perempuan melalui 'Aisyiyah:

  • Tidak hanya fokus pada domestik, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan advokasi sosial bagi perempuan (Miskiyah, 2021).
  • 'Aisyiyah menjadi pionir gerakan perempuan muslim berbasis organisasi.
7

Peran dalam Bidang Sosial & Kesehatan

Amal Usaha untuk Kemanusiaan.


Pendirian Rumah Sakit, Balai Pengobatan, dan Panti Asuhan.

Filosofi: "Menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam" (Q.S. Al-Anbiya: 107) diterjemahkan secara nyata.

Lembaga seperti PKU (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menjadi bukti komitmen kemanusiaan yang berkelanjutan (Jamil, 2022).

8

Perkembangan & Ekspansi

Dari Yogyakarta ke Seluruh Nusantara.


Strategi Ekspansi: Melalui jaringan kader yang disebarkan lewat sekolah dan dakwah.

Pertumbuhan Pesat: Struktur organisasi yang rapi (Cabang, Ranting, Daerah) memungkinkan diseminasi gagasan yang terorganisir (Nashir, 2022).

Tantangan: Menghadapi penolakan dari kalangan tradisionalis, tetapi mampu membangun dialog dan koeksistensi.

9

Peran di Masa Pra-Kemerdekaan

Membangun Kesadaran Kebangsaan.


1) Meski non-politik praktis, Muhammadiyah aktif membangun civil society dan kesadaran kebangsaan melalui pendidikan.

2) Kader-kadernya seperti Ki Bagus Hadikusumo berperan kunci dalam perumusan dasar negara, memperjuangkan Piagam Jakarta (Falaakh, 2020).

3) Kontribusi dalam membentuk etos nasionalisme-religius yang khas.

10

Peran di Era Kemerdekaan & Orde Baru

Dari Revolusi hingga Pembangunan.


Era Kemerdekaan: Mendukung logistik dan legitimasi bagi Republik Indonesia yang baru lahir.

Era Orde Baru: Berkontribusi dalam pembangunan nasional melalui amal usaha yang masif.

Tetap menjaga independensi dengan kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan rakyat, meski dengan strategi yang hati-hati (Zuhri, 2022).

11

Muhammadiyah di Era Kontemporer

Menjadi Gerakan Islam Berkemajuan.


Secara resmi mengusung paradigma "Gerakan Islam Berkemajuan" yang menekankan optimisme, rasionalitas, dan etos kerja untuk peradaban (Nashir, 2022).

Aktif dalam isu-isu global: perdamaian, toleransi, lingkungan, dan kemanusiaan.

Menghadapi tantangan: radikalisme, intoleransi, dan disrupsi digital dengan pendekatan wasathiyyah (moderasi) (Azra, 2020).

12

Kontribusi bagi Indonesia

Jejak yang Membanggakan.


Pendidikan: Memiliki 5.747 sekolah (data 2022) dan 172 Perguruan Tinggi, menjadi salah satu penyangga sistem pendidikan nasional.

Kesehatan: Mengelola 3.030 layanan kesehatan (RS, Klinik, dll).

Pemberdayaan Masyarakat: Lazismu, MDMC, dan ribuan masjid/mushola.

Pemikiran: Menghasilkan khazanah pemikiran Islam Indonesia yang moderat dan berkemajuan.

13

Kesimpulan & Penutup

Muhammadiyah adalah produk sekaligus aktor dari modernitas Islam di Indonesia.


Kekuatan dan ketahanannya terletak pada integrasi triad: Tajdid (Pembaruan), Tajdid (Pendidikan), dan Pelayanan Sosial.

Dengan semangat Al-Ma'un, Muhammadiyah telah membuktikan relevansinya dari masa kolonial hingga era society 5.0.

Pelajaran Penting: Keberhasilan sebuah gerakan ditentukan oleh kemampuan membaca zaman dan menjawabnya dengan aksi nyata yang terorganisir.

14

Daftar Pustaka

1. Azra, A. (2020). Genealogi Islam Indonesia: Kontestasi, Jaringan, dan Akomodasi. PT Kompas Media Nusantara.

2. Burhani, H. N. (2020). Muhammadiyah Jawa: Historisitas, Ideologi, dan Organisasi. Seri Buku Sempalan, CRCS UGM.

3. Falaakh, M. F. (2020). Muhammadiyah dan Negara: Dari Oposisi Menuju Akomodasi. Dalam Jurnal Maarif, Vol. 15, No. 1.

4. Jamil, M. M. (2022). Filantropi Islam dan Pemberdayaan Ekonomi Umat: Studi atas Peran Lazismu. Jurnal Zakat dan Wakaf, Vol. 9, No. 1.

5. Miskiyah, S. (2021). Kepemimpinan Perempuan dalam 'Aisyiyah: antara Tradisi dan Modernitas. Jurnal Palastren, Vol. 14, No. 1.

6. Nashir, H. (2022). Muhammadiyah: Gerakan Pembaruan Keagamaan dan Kemasyarakatan. Suara Muhammadiyah.

7. Qodir, A., dkk. (2023). Dakwah Kultural KH Ahmad Dahlan: Relevansinya dengan Konteks Masyarakat Multikultural Indonesia Kini. Jurnal Komunikasi Islam, Vol. 13, No. 1.

8. Zuhri, S. (2022). Pendidikan Integratif di Pesantren dan Muhammadiyah: Sebuah Studi Komparatif. Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 11, No. 2.

15

Question & Answer

Are you sure you want to leave the page?

If you leave the page, you will lose your game progress.