New game
Download
Get Academic Plan
Share game
Integrate it into your platform

You can integrate the game into an LMS compatible with LTI 1.1 or LTI 1.3 such as Canvas, Moodle, or Blackboard. This way, the scores will be automatically saved into the platform’s gradebook.
Download
You have exceeded the maximum number of games you can integrate into Google Classroom with your current Plan.

To integrate as many games as you want in Google Classroom, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

You have exceeded the maximum number of games you can integrate into Microsoft Teams with your current Plan.

To integrate as many games as you want in Microsoft Teams, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

Downloading games is an exclusive feature for users with an Academic Plan or a Commercial Plan.

Get your Academic Plan or your Commercial Plan now and start integrating your games into your LMS, website or blog.

If you wish, you can download a demo game here and test its integration:

Penilaian Sumatif Teks Cerita Pendek (Cerpen)

Quiz

Played 0

About this activity

Penilaian sumatif ini bertujuan untuk mengukur pemahaman peserta didik terhadap teks cerita pendek (cerpen). Materi yang diujikan meliputi unsur pembangun cerpen, gagasan dan pesan pengarang, makna tersurat dan tersirat, serta keterampilan menulis teks cerpen. Peserta didik diharapkan mampu memahami isi cerpen, menganalisis unsur-unsurnya, dan menyajikan ide kreatif dalam bentuk tulisan.

Created by

Indonesia

Download the paper version to play

Make your own free game from our game creator
Compete against your friends to see who gets the best score in this game

Top Games

%
Anonymous
Anonymous
%
%
%
You have exceeded the maximum number of games you can print with your current Plan.

To print as many games as you want, you need an Academic Plan or a Commercial Plan.

Print your game
Penilaian Sumatif Teks Cerita Pendek (Cerpen)
 

Penilaian Sumatif Teks Cerita Pendek (Cerpen)Online version

Penilaian sumatif ini bertujuan untuk mengukur pemahaman peserta didik terhadap teks cerita pendek (cerpen). Materi yang diujikan meliputi unsur pembangun cerpen, gagasan dan pesan pengarang, makna tersurat dan tersirat, serta keterampilan menulis teks cerpen. Peserta didik diharapkan mampu memahami isi cerpen, menganalisis unsur-unsurnya, dan menyajikan ide kreatif dalam bentuk tulisan.

by Widia Hanifa
1

Tema yang paling tepat menggambarkan isi kutipan cerpen tersebut adalah ....

2

Watak tokoh Haji Saleh yang paling dominan berdasarkan kutipan cerpen tersebut adalah ....

3

Latar suasana yang dominan tercipta dalam kutipan cerpen tersebut adalah ....

4

Nilai kehidupan yang paling menonjol dalam kutipan cerpen tersebut adalah ....

5

Amanat yang ingin disampaikan pengarang melalui kutipan cerpen tersebut adalah ....

6

Gagasan pokok yang mendasari kutipan cerpen tersebut adalah ....

7

Pandangan pengarang terhadap kehidupan kaum buruh yang tercermin dalam kutipan tersebut adalah ....

8

Pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui tokoh Karyamin adalah ....

9

Gaya bahasa yang terdapat dalam kalimat "senyum yang menyimpan dunia yang runtuh di dalamnya" adalah ....

10

Perhatikan informasi berikut! Ahmad Tohari lahir dan besar di Banyumas, Jawa Tengah. Ia tumbuh di lingkungan pedesaan dan sejak muda menyaksikan langsung kehidupan buruh tani, kemiskinan struktural, dan ketimpangan sosial di sekitarnya. Pengalaman itu menjadi sumber utama karya-karyanya. 10. Berdasarkan informasi di atas, unsur ekstrinsik yang paling kuat memengaruhi isi kutipan cerpen tersebut adalah ....

11

Melalui tokoh Ben, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa ....

12

Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, alasan Ben menolak mengakui kopi yang ditemukan El sebagai kopi sempurna adalah ....

13

Pernyataan Ben, "Yang namanya sempurna itu hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri," secara tersirat mengandung makna ....

14

Reaksi El yang "terdiam" setelah mendengar argumen Ben mencerminkan ....

15

Sudut pandang yang digunakan penulis dalam kutipan cerpen tersebut adalah ....

16

Makna tersirat dari kalimat "matanya seperti lautan yang tenang — tenang yang menakutkan, bukan tenang yang damai" adalah ....

17

Watak tokoh ibu yang paling tepat berdasarkan kutipan cerpen tersebut adalah ....

18

Gaya bahasa yang digunakan dalam kalimat "matanya seperti lautan yang tenang" adalah ....

Pilih satu atau lebih jawaban

19

Amanat yang paling tepat dirumuskan dari kutipan cerpen tersebut adalah ....

20

Pandangan pengarang terhadap peran seorang ibu dalam keluarga yang paling tepat disimpulkan dari kutipan cerpen tersebut adalah ....

21

Identifikasilah tema kutipan cerpen di atas, kemudian jelaskan amanat yang dapat kamu petik beserta alasannya!

Jawaban tertulis

22

Jelaskan pandangan pengarang tentang hubungan antara cinta dan pengorbanan berdasarkan kutipan cerpen tersebut, serta berikan bukti tekstualnya!

Jawaban tertulis

23

Tuliskan dua makna tersurat dan dua makna tersirat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut!

Jawaban tertulis

24

Sebutkan dan jelaskan nilai-nilai yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut! Sertakan bukti kutipan dari teks untuk mendukung jawabanmu!

Jawaban tertulis

25

Bacalah kembali kutipan cerpen di atas, kemudian tulislah satu paragraf (5–8 kalimat) yang melanjutkan cerita tersebut! Gambarkan apa yang Siti lakukan atau rasakan setelah membaca surat itu, dan pastikan paragrafmu sesuai dengan karakter serta suasana yang sudah dibangun dalam cerpen!

Jawaban tertulis

Penjelasan

Tema adalah pokok persoalan yang mendasari seluruh cerita. Dalam kutipan ini, Haji Saleh diadili karena selama hidup ia tekun beribadah secara ritual (shalat, puasa, zakat, haji), tetapi mengabaikan tanggung jawab sosial: saudaranya yang kelaparan dan anak-anaknya yang tidak berpendidikan. Kalimat "kau lupakan saudaramu yang kelaparan" memperkuat tema bahwa ritual tanpa kepedulian sosial adalah ibadah yang tidak sempurna. Pilihan A, C, D, dan E tidak mencakup keseluruhan konflik cerita.

Watak tokoh diidentifikasi melalui ucapan, tindakan, dan respons tokoh lain. Haji Saleh rajin shalat, puasa, zakat, bahkan berhaji berkali-kali (saleh ritual), namun melupakan saudaranya yang kelaparan (lalai sosial). Reaksinya "tertunduk" menunjukkan bukan sombong, sehingga pilihan B gugur. Pilihan A, D, dan E tidak didukung bukti tekstual.

Latar suasana adalah nuansa emosional yang dirasakan pembaca. Haji Saleh berdiri di hadapan "pengadilan Tuhan" — situasi penghakiman yang menegangkan. Ia merasa paling taat, namun mendapati dirinya berdiri "dengan tangan hampa," menandakan penyesalan mendalam. Kata "tertunduk" mempertegas suasana batin yang berat dan penuh sesal.

Nilai dalam karya sastra adalah pandangan hidup yang ingin disampaikan pengarang. Cerpen ini menyampaikan nilai moral-religius bahwa ibadah sejati bukan hanya ritual, melainkan harus mencakup kepedulian sosial. Kalimat "ibadah itu untuk dirimu sendiri, untuk membersihkan hatimu" menunjukkan bahwa pembersihan hati harus tercermin dalam perbuatan kepada sesama.

Amanat adalah pesan moral yang ingin ditanamkan pengarang. Haji Saleh yang sudah shalat, puasa, zakat, dan berhaji berkali-kali justru "berdiri dengan tangan hampa" karena mengabaikan saudaranya yang kelaparan. Pengarang mengingatkan bahwa dimensi vertikal (hubungan dengan Tuhan) harus seimbang dengan dimensi horizontal (kepedulian kepada sesama).

Gagasan pokok adalah ide utama yang menjadi inti cerita. Karyamin terus tersenyum meski menghadapi tekanan fisik, ekonomi, dan sosial. Senyum bukan tanda kebahagiaan, melainkan perlawanan diam dan satu-satunya hak yang tak bisa dirampas. Kalimat "senyum adalah satu-satunya miliknya yang tidak bisa dirampas siapa pun" adalah pernyataan gagasan pokok secara eksplisit.

Pandangan pengarang (sudut pandang ideologis) terlihat dari cara pengarang memosisikan tokoh. Ahmad Tohari tidak menggambarkan Karyamin sebagai korban pasif atau pemberontak agresif, melainkan sebagai manusia dengan kekuatan batin yang tersembunyi dalam senyumnya. Frasa "satu-satunya miliknya yang tidak bisa dirampas" mencerminkan pandangan humanis pengarang: orang kecil sekalipun memiliki martabat yang tak ternilai.

Amanat adalah nilai atau nasihat yang ingin ditanamkan pengarang. Karyamin tidak memiliki harta, upahnya dipotong, dan perutnya lapar, namun senyumnya tidak bisa diambil siapa pun. Frasa "satu-satunya miliknya yang tidak bisa dirampas siapa pun" adalah inti dari pesan bahwa kekuatan sejati manusia bukan pada materi, melainkan pada martabat dan ketabahan batin.

Metafora adalah perbandingan langsung antara dua hal tanpa kata pembanding (seperti, bagai, laksana). Kalimat tersebut menyamakan senyum secara implisit dengan sebuah wadah yang menampung hancurnya dunia batin Karyamin tanpa menggunakan kata pembanding eksplisit. Bukan simile (D) karena tidak ada kata "seperti". Bukan personifikasi (B) karena tidak memberikan sifat makhluk hidup pada benda mati. Bukan hiperbola (A) karena fungsi utamanya adalah perbandingan.

Unsur ekstrinsik adalah faktor di luar teks yang memengaruhi penciptaan karya. Ahmad Tohari tumbuh di lingkungan pedesaan Jawa Tengah dan menaruh perhatian besar pada kehidupan rakyat kecil. Cerpen Senyum Karyamin lahir dari penghayatan langsung terhadap realitas sosial-ekonomi masyarakat buruh desa: kemiskinan struktural, eksploitasi mandor, dan ketimpangan sosial yang dialami kaum marjinal.

Ben secara eksplisit menyatakan bahwa mengakui sesuatu sebagai sempurna berarti berhenti mencari. Penulis menggunakan sudut pandang Ben sebagai kendaraan pesan bahwa ketidaksempurnaan justru menjadi penggerak eksplorasi dan pertumbuhan diri. Kalimat "mengakui sesuatu sebagai sempurna berarti berhenti mencari" adalah inti pesan tersebut.

Makna tersurat (eksplisit) dinyatakan langsung dalam teks: "…karena bagi Ben, mengakui sesuatu sebagai sempurna berarti berhenti mencari." Pilihan B adalah satu-satunya yang mencerminkan isi teks secara langsung tanpa interpretasi tambahan.

Pernyataan "ilusi yang kita ciptakan sendiri" secara tersirat menggambarkan bahwa kesempurnaan bukan sesuatu yang eksis secara objektif, melainkan konstruksi mental yang bersifat subjektif. Makna ini tersirat (implisit) karena tidak dinyatakan langsung, namun dapat disimpulkan dari penggunaan kata ilusi dan kita ciptakan sendiri.

Diam dalam sastra sering merupakan penanda konflik batin atau momen refleksi. El baru saja menemukan sesuatu yang ia yakini sebagai kesempurnaan, lalu Ben meruntuhkan keyakinan itu dengan argumen filosofis. Diam El secara tersirat menggambarkan proses kognitif dan emosional saat seseorang berhadapan dengan sudut pandang yang berlawanan dengan keyakinannya.

Dalam kutipan, penulis menggunakan kata ganti orang ketiga (Ben, El) dan bebas mengungkapkan pikiran serta motivasi tokoh, misalnya: "Bukan karena Ben tidak menghargai kopi itu. Tapi karena bagi Ben, mengakui sesuatu sebagai sempurna berarti berhenti mencari." Kemampuan narator mengungkap batin tokoh adalah ciri sudut pandang orang ketiga serba tahu (omniscient).

Gaya bahasa simile "seperti lautan yang tenang" dipertegas dengan pembedaan "tenang yang menakutkan, bukan tenang yang damai". Kontras ini menggambarkan bahwa ketenangan ibu adalah kesedihan yang dipendam secara sadar, bukan keikhlasan yang tulus. Pembaca diajak menyimpulkan makna ini dari konteks keseluruhan, bukan dari pernyataan langsung.

Ibu mengakui kesedihannya, namun memilih tidak menangis di depan anak-anak. Ia bahkan mengubah kesedihan menjadi pesan semangat: "kamu harus mewarisi semangatnya, bukan air matanya." Ini adalah gambaran tokoh yang tegar dan rela berkorban: menyembunyikan luka demi melindungi mental anak-anaknya.

Simile adalah perbandingan yang menggunakan kata pembanding secara eksplisit seperti "seperti", "bagai", atau "laksana". Kalimat ini menggunakan kata "seperti" untuk membandingkan mata ibu dengan lautan yang tenang, sehingga jelas merupakan simile. Berbeda dengan metafora (A) yang tidak menggunakan kata pembanding eksplisit.

Pesan utama disampaikan langsung melalui dialog ibu: "kamu harus mewarisi semangatnya, bukan air matanya." Ini adalah amanat tentang cara menghadapi duka: ubah kesedihan menjadi kekuatan, jangan menurunkan beban batin kepada generasi berikutnya. Pilihan B terlalu ekstrem; pilihan A dan E tidak didukung konteks teks.

Pandangan pengarang (world view) adalah cara pengarang memaknai dan menyikapi realitas yang ia gambarkan dalam karyanya. Dalam kutipan ini, Leila S. Chudori tidak menampilkan ibu sebagai sosok yang lemah atau justru tanpa perasaan. Sebaliknya, pengarang menggambarkan ibu sebagai figur yang secara sadar memilih untuk menahan kesedihannya demi kepentingan anak-anaknya. Hal ini tampak dari kalimat "Tapi ibu tidak mau kamu mewarisi air matanya. Kamu harus mewarisi semangatnya." Pengarang memandang bahwa pengorbanan terbesar seorang ibu bukan sekadar materi, melainkan kemampuan mengubah luka pribadi menjadi kekuatan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Pilihan A terlalu menyederhanakan (bukan soal terlihat kuat, melainkan mewariskan semangat), pilihan B bertentangan dengan tindakan tokoh, sedangkan D dan E tidak memiliki dasar tekstual dalam kutipan.

Cinta seorang ibu yang diungkapkan secara diam-diam melalui tindakan nyata, bukan kata-kata. Bukti: nasi hangat setiap pagi adalah simbol kasih yang konsisten tanpa pengakuan verbal. Amanat: Cinta yang tulus tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk diungkapkan; ia hadir dalam tindakan-tindakan kecil yang konsisten dan penuh perhatian. Pengarang mengingatkan kita agar tidak mengabaikan kasih sayang yang hadir dalam bentuk non-verbal.

Pengarang memandang bahwa cinta sejati justru paling kuat ketika ia diungkapkan melalui pengorbanan tersembunyi, bukan deklarasi terbuka. Perempuan tua itu menanggung kesunyian — tidak pernah mengetuk pintu, tidak pernah menyapa — namun tidak pernah absen memberikan nasi hangat. Kalimat "Tidak ada satu hari pun yang aku lewatkan tanpa memikirkanmu" menunjukkan pandangan pengarang bahwa ketulusan cinta diukur dari konsistensi tindakan, bukan dari keberanian berbicara. Pengarang juga menyiratkan bahwa rasa bersalah dapat menjadi beban yang lebih berat daripada kesedihan itu sendiri.

Makna Tersurat 1: Siti tidak pernah mengetahui siapa ibu kandungnya. Makna Tersurat 2: Seorang perempuan tua meletakkan nasi setiap pagi di depan pintu kamar Siti tanpa pernah mengetuk atau menyapa. Makna Tersirat 1: Perempuan tua itu adalah ibu kandung Siti yang menyimpan rasa bersalah dan rindu yang dalam, namun tidak berani menampakkan diri secara langsung. Makna Tersirat 2: Nasi yang selalu hangat di tengah udara dingin melambangkan kasih sayang yang tidak pernah padam meski terhalang jarak emosional dan rasa takut.

Nilai Moral: Kasih sayang yang tulus tidak harus diungkapkan secara verbal. Bukti: "nasi itu selalu hangat di tengah udara yang dingin" — tindakan nyata yang konsisten mencerminkan cinta. Nilai Sosial: Hubungan antara ibu dan anak dapat terjalin meski tanpa komunikasi langsung, selama ada perhatian yang nyata dan berkelanjutan.

Siti duduk di lantai, kertas itu masih gemetar di tangannya. Tulisan itu singkat, tapi setiap katanya terasa seperti pintu yang selama bertahun-tahun terkunci kini terbuka sekaligus. Ia teringat pagi-pagi ketika ia pura-pura belum bangun, hanya untuk mendengar langkah kaki pelan itu mendekat lalu menjauh. Kini barulah ia mengerti mengapa langkah itu selalu terdengar ragu. Siti ingin menangis, tapi air matanya tidak juga datang. Yang ada hanyalah rasa hangat yang menyebar di dadanya, persis seperti nasi yang tak pernah absen di depan pintunya — hangat, diam, dan penuh.

Are you sure you want to leave the page?

If you leave the page, you will lose your game progress.